<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Elizza Batik</title>
	<atom:link href="http://elizzabatik.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elizzabatik.com</link>
	<description>Online Shop Gallery</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 15:35:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengenal Ragam Motif Batik Lasem</title>
		<link>http://elizzabatik.com/mengenal-ragam-motif-batik-lasem</link>
		<comments>http://elizzabatik.com/mengenal-ragam-motif-batik-lasem#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 04:32:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elizza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elizzabatik.com/?p=6921</guid>
		<description><![CDATA[Tak diragukan lagi, batik Lasem memang dikenal seantero Indonesia. Akan tetapi, tak banyak yang benar-benar mengenal motif khas batik Lasem. Secara umum, batik Lasem dipercaya memiliki ciri khas multicultural, sebab adanya paduan unsur budaya ­Jawa dan Tionghoa. Dalam kekhasan tersebut, bagi mereka yang memiliki kejelian dalam meneropong motif batik Lasem, sesungguhnya warna-warni yang cerah akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak diragukan lagi, batik Lasem memang dikenal seantero Indonesia. Akan tetapi, tak banyak yang benar-benar mengenal motif khas batik Lasem. Secara umum, batik Lasem dipercaya memiliki ciri khas multicultural, sebab adanya paduan unsur budaya ­Jawa dan Tionghoa. Dalam kekhasan tersebut, bagi mereka yang memiliki kejelian dalam meneropong motif batik Lasem, sesungguhnya warna-warni yang cerah akan terpancar sebagai pesona yang khas.</p>
<p style="text-align: justify;">Keragaman warna batik di Indonesia sesungguhnya menunjukkan bahwa motif dan warna batik tersebut merepresentasikan dari daerah mana batik itu berasal. Batik Lasem memang memiliki motif dan warna yang kental dengan ciri multikultural antara budaya Jawa dan Tionghoa. Awal mula keterpaduan motif tersebut diyakini pada zaman Kerajaan Majapahit, yaitu pada saat kota Lasem menjadi salah satu dari tiga kota pelabuhan terbesar di Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila Anda pernah membaca Kitab Serat Badra Santi (Babad Tanah Lasem) yang ditulis pada 1479, Anda akan menemukan bahwa Lasem pernah disinggahi seorang nahkoda kapal dari rombongan Laksamana Cengho. Nah, seorang Puteri bernama Na Li Ni, atau istri sang nahkoda kapal, adalah perintis dunia perbatikan Lasem. Begitulah sejarah mencatat fenomena peradaban yang hingga kini masih lestari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari tradisi tersebut, pewaris perbatikan pun menyebar di seantero Kabupaten Rembang, khususnya Lasem, Pancur, Pamotan, dan Rembang sendiri. Jika Anda datang ke kota Lasem dan ingin menyaksikan keelokan batik Lasem dengan motif khas Tionghoa, Anda harus memerhatikan gambar-gambar seperti burung hong, kilin, liong, ikan mas, ayam hutan, dan sebagainya. Selain itu, ada juga motif bunga seperti seruni, delima, magnolia, peoni atau sakura. Ciri khas motif Tionghoa lainnya bisa dilihat dalam motif geometris seperti swastika, banji, bulan, awan, gunung, mata uang atau gu­lungan surat. Anda bisa melihat juga koleksi kami di website ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum, motif Tionghoa ini memiliki perpaduan dengan motif Jawa yang biasa terdapat dalam batik khas Jogjakarta dan Solo, seperti parang, lereng, kawung, udan liris dan lain sebagainya. Uniknya, warna dominan dalam batik Lasem adalah merah, biru, soga, hijau, ungu, hitam, krem, dan putih. Tentu saja, warna-warna merupakan pengaruh dua budaya yang saling silang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari catatan sejarah, sesungguhnya warna-warni dalam batik Lasem itu memiliki pengaruh kuat dari berbagai budaya. Warna merah dalam batik Lasem diyakini berasal dari pengaruh budaya Tionghoa. Warna biru berasal dari pengaruh budaya Eropa (Belanda). Warna soga berasal dari pengaruh budaya Jawa, yaitu diambil dari warna batik Solo. Sedangkan hijau akibat pengaruh komunitas muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila Anda mau menengok beberapa koleksi kami di dalam website ini, ada beberapa contoh kombinasi warna tersebut yang dianggap sangat elegan, yaitu dalam motif “batik tiga negeri” khas Lasem. Menurut catatan sejarah, “batik tiga negeri” dikembangkan pada zaman Hindia Belanda, dan mempunyai tiga warna khas karena dibuat di tiga wilayah produksi. Merah diproduksi di Lasem, Biru diproduksi di Pekalongan, dan soga diproduksi di Solo. Warna biru bisa diganti dengan hijau atau ungu berdasarkan selera pemesan. Tapi warna merah dan soga terdapat di semua batik tiga negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari segi pemasaran, sejak abad ke-19, batik Lasem telah popular di seluruh pulau Jawa, Sumatera, semenanjung Malaka (termasuk Singapura dan Malaysia), Bali, Sulawesi, wilayah Asia Timur (Jepang), Suriname dan Eropa. Pengaruh penyebaran batik Lasem di zaman itu masih bisa dilihat di daerah Bali, Lombok, Sumbawa, dan Sumatera Barat hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, kain batik Lasem bermotif Lok Can dipakai sebagai selendang atau ikat pinggang pada berbagai upacara agama. Di Lombok dan Sumbawa, batik Lasem digunakan sebagai syal para pria. Sedangkan wanita di Sumatera barat menggunakan batik Lasem sebagai selendang. Budaya-budaya lokal tersebut pada gilirannya juga memberi pengaruh pada batik Lasem, yang menginspirasi dimensi ukuran, motif, warna dan jenis kain menjadi lebih beragam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elizzabatik.com/mengenal-ragam-motif-batik-lasem/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Motif Batik Lasem Telah Terpatenkan</title>
		<link>http://elizzabatik.com/motif-batik-lasem-telah-terpatenkan</link>
		<comments>http://elizzabatik.com/motif-batik-lasem-telah-terpatenkan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 04:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elizza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Lasem]]></category>
		<category><![CDATA[Kendoro-Kendiri]]></category>
		<category><![CDATA[Latohan]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Batik Lasem]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Batik Lasem Dipatenkan]]></category>
		<category><![CDATA[Sekar Jagat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elizzabatik.com/?p=6917</guid>
		<description><![CDATA[Rembang (ANTARA News)-Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bekerja sama dengan sejumlah pengusaha batik lasem akan kembali mematenkan lima motif batik lasem untuk melindungi dan mempermudah pemasaran batik di kancah perdagangan internasional. Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang mengatakan saat ini sudah 20 motif dari 200 motif batik lasem yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Rembang (ANTARA News)-Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bekerja sama dengan sejumlah pengusaha batik lasem akan kembali mematenkan lima motif batik lasem untuk melindungi dan mempermudah pemasaran batik di kancah perdagangan internasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang mengatakan saat ini sudah 20 motif dari 200 motif batik lasem yang dipatenkan melalui Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pada 2012, kami akan kembali mengajukan paten untuk lima motif batik tulis lasem. Lima motif batik itu antara lain motif bilah bambu dan garuda,&#8221; katanya mengungkapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, biaya pengajuan hak paten itu sebagian besar akan ditanggung pemkab setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyebutkan biaya paten untuk satu motif sebesar sekitar Rp1,5 juta.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika per motif Rp1,5 juta, maka biaya paten untuk lima motif batik itu sebesar Rp7,5 juta. Pemerintah Kabupaten Rem-bang menanggung sebagian besar biaya itu dan sisanya ditanggung pengusaha batik,&#8221; kata dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, Sudirman tidak menyebutkan berapa persen biaya yang ditanggung oleh pemkab. &#8220;Hanya, pemkab akan menanggung lebih banyak,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berharap dengan mematenkan motif batik lasem tersebut, tidak ada klaim dari daerah atau negara lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan data pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang, motif batik yang dipatenkan, antara lain, motif kendoro-kendiri ukel, latohan abangan, parang sekar es teh, lasem sekar jagad, lasem pasiran, dan lasem lerek lung-lungan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Motif-motif yang sudah dipatenkan itu didominasi warna merah marun, biru, coklat, dan ungu. Sementara, motif yang akan kembali dipatenkan juga masih akan mengusung warna cerah,&#8221; kata mengungkapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Antara</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elizzabatik.com/motif-batik-lasem-telah-terpatenkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Cina dan Jawa dalam Batik Lasem</title>
		<link>http://elizzabatik.com/budaya-cina-dan-jawa-dalam-batik-lasem</link>
		<comments>http://elizzabatik.com/budaya-cina-dan-jawa-dalam-batik-lasem#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elizza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Lasem]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Tuban]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Batik Lasem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elizzabatik.com/?p=6910</guid>
		<description><![CDATA[Para pakar batik membuat dua klasifikasi atau golongan batik Jawa menjadi dua golongan besar. Pertama adalah batik dari pesisiran yang lahir dari rahim masyarakat pesisir, terutama pantai Utara, seperti Tuban, Lasem, dan Cirebon. Secara umum, batik pesisiran yang lahir di masyarakat kawasan pantai sangat dipengaruhi oleh budaya asing, sebab lebih banyak disinggahi kapal asing dipelabuhan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para pakar batik membuat dua klasifikasi atau golongan batik Jawa menjadi dua golongan besar. Pertama adalah batik dari pesisiran yang lahir dari rahim masyarakat pesisir, terutama pantai Utara, seperti Tuban, Lasem, dan Cirebon. Secara umum, batik pesisiran yang lahir di masyarakat kawasan pantai sangat dipengaruhi oleh budaya asing, sebab lebih banyak disinggahi kapal asing dipelabuhan. Model atau golongan batik Jawa kedua ialah batik kerajaan. Solo, Jogja, dan Banyumasan telah banyak melahirkan batik model ini. Menurut Sigit Wicaksono, seorang pengusaha dan pengamat batik Lasem, batik kerajaan cenderung orisinil, tidak dipengaruhi gaya atau motif asing.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini tentu sangat berlainan dengan batik Lasem yang sangat berdekatan, bahkan melekat dengan kebudayaan Cina. Sekali lagi menurut Sigit Wicaksono, ada beberapa motif batik Lasem yang dipengaruhi kebudayaan Cina, di antaranya motif yang dengan gambar burung Hong, Naga, dan pokok-pokok pohon Bambu. Dalam kepercayaan Cina, pohon Bambu melambangkan suatau kerukunan keluarga yang sangat kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di luar kerangka motif tersebut, sesungguhnya batik Lasem memiliki kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan batik lain, baik yang pesisiran atau dari kerajaan. Setidaknya terdapat dua corak khas yang hampir selalu melekat dalam batik Lasem, yaitu: <em>latohan</em> dan <em>watu</em> pecah. Dalam sejarah batik Lasem, motif <em>Latohan</em> diyakini mendapat inspirasi dari tanaman latoh (sejenis rumput laut) yang menjadi makanan khas masyarakat Lasem. Sedangkan untuk motif <em>watu</em> pecah merupakan symbol yang menggambarkan betapa jengkelnya masyarakat Lasem sewaktu terjadi kerja rodi pembuatan jalan Daendeles di sepanjang Pantura (termasuk Lasem) yang menelan banyak korban dari masyarakat Lasem.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, sesungguhnya sejarah batik, terutama motifnya, bukan hanya gambar yang tak bermakna, melainkan terkandung pula kepahitan sejarah yang menimpa masyarakat di mana bati itu lahir. Oleh karenanya, batik tak lain adalah produk budaya yang sangat berharga, terutama dari sudut pandang sejarah. Ia merupakan satu warisan budaya Indonesia bahkan dunia, sebagaimana ketetapan UNESCO pada 2 Oktober 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Mencintai dan melestarikan batik tentu saja menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Kini, di berbagai instansi atau lembaga swasta maupun pemerintahan, batik telah menjadi budaya baru yang dapat dilihat pada hari-hari tertentu. Secara tidak langsung, fenomena tersebut telah menjadikan batik sebagai gaya hidup yang patut dilestarikan dan dipromosikan kepada masyarakat dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Melestarikan batik tentusaja tak hanya berhenti pada pemakaian produk batik, tetapi juga diperlukan usaha mentransformasikan pengetahuan tentang batik dan membatik kepada siswa-siswa di sekolah, terutama melalui kurikulum mulok (muatan lokal). Hal ini sepertinya telah dilakukan oleh beberapa sekolah di sekitar Lasem atau Kabupaten Rembang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elizzabatik.com/budaya-cina-dan-jawa-dalam-batik-lasem/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

