Para pakar batik membuat dua klasifikasi atau golongan batik Jawa menjadi dua golongan besar. Pertama adalah batik dari pesisiran yang lahir dari rahim masyarakat pesisir, terutama pantai Utara, seperti Tuban, Lasem, dan Cirebon. Secara umum, batik pesisiran yang lahir di masyarakat kawasan pantai sangat dipengaruhi oleh budaya asing, sebab lebih banyak disinggahi kapal asing dipelabuhan. Model atau golongan batik Jawa kedua ialah batik kerajaan. Solo, Jogja, dan Banyumasan telah banyak melahirkan batik model ini. Menurut Sigit Wicaksono, seorang pengusaha dan pengamat batik Lasem, batik kerajaan cenderung orisinil, tidak dipengaruhi gaya atau motif asing.
Hal ini tentu sangat berlainan dengan batik Lasem yang sangat berdekatan, bahkan melekat dengan kebudayaan Cina. Sekali lagi menurut Sigit Wicaksono, ada beberapa motif batik Lasem yang dipengaruhi kebudayaan Cina, di antaranya motif yang dengan gambar burung Hong, Naga, dan pokok-pokok pohon Bambu. Dalam kepercayaan Cina, pohon Bambu melambangkan suatau kerukunan keluarga yang sangat kuat.
Di luar kerangka motif tersebut, sesungguhnya batik Lasem memiliki kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan batik lain, baik yang pesisiran atau dari kerajaan. Setidaknya terdapat dua corak khas yang hampir selalu melekat dalam batik Lasem, yaitu: latohan dan watu pecah. Dalam sejarah batik Lasem, motif Latohan diyakini mendapat inspirasi dari tanaman latoh (sejenis rumput laut) yang menjadi makanan khas masyarakat Lasem. Sedangkan untuk motif watu pecah merupakan symbol yang menggambarkan betapa jengkelnya masyarakat Lasem sewaktu terjadi kerja rodi pembuatan jalan Daendeles di sepanjang Pantura (termasuk Lasem) yang menelan banyak korban dari masyarakat Lasem.
Dengan demikian, sesungguhnya sejarah batik, terutama motifnya, bukan hanya gambar yang tak bermakna, melainkan terkandung pula kepahitan sejarah yang menimpa masyarakat di mana bati itu lahir. Oleh karenanya, batik tak lain adalah produk budaya yang sangat berharga, terutama dari sudut pandang sejarah. Ia merupakan satu warisan budaya Indonesia bahkan dunia, sebagaimana ketetapan UNESCO pada 2 Oktober 2009.
Mencintai dan melestarikan batik tentu saja menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Kini, di berbagai instansi atau lembaga swasta maupun pemerintahan, batik telah menjadi budaya baru yang dapat dilihat pada hari-hari tertentu. Secara tidak langsung, fenomena tersebut telah menjadikan batik sebagai gaya hidup yang patut dilestarikan dan dipromosikan kepada masyarakat dunia.
Melestarikan batik tentusaja tak hanya berhenti pada pemakaian produk batik, tetapi juga diperlukan usaha mentransformasikan pengetahuan tentang batik dan membatik kepada siswa-siswa di sekolah, terutama melalui kurikulum mulok (muatan lokal). Hal ini sepertinya telah dilakukan oleh beberapa sekolah di sekitar Lasem atau Kabupaten Rembang.
mata pitik pink ungu
Kawung coklat hitam
jawaran merah hijau kuning
Jawaran merah hitam
Sarong Sekar Jagad Pasiran
Watu Pecah Biru
Kijing Miring
Sekar Jagad Ungu